29.12.11

counting years

15 tahun lalu gue baru lahir. mungkin 15 tahun lagi gue udah punya anak sendiri.
10 tahun lalu gue baru belajar baca. mungkin 10 tahun lagi gue udah kerja.
5 tahun lalu gue seneng banget ulangtahun yang ke 10, soalnya lilinnya ada 2 digit. 5 tahun lagi mungkin gue merasa tua sendiri ngeliat angka umur gue, 20.
1 tahun lalu gue masih SMP, masih pake ransel mickey mouse & suka main benteng. tahun ini, udah ngga ada lagi. adanya diketawain kalo masih kayak gitu.


semuanya sangat sungguh terlalu...................cepat.

22 .12.

22 Desember.
sepertinya semua tau, itu hari ibu.
dulu waktu gue kecil, beberapa hari sebelum hari ibu pasti gue nyiapin sesuatu buat nyokap gue. entah gambar gue sendiri yang acak-acakan, surat yang kata-kata dan tulisannya ngga teratur, bahkan bunga plastik yang gue kasih parfum biar harum. yang tanpa gue sadari itu bunga punya nyokap gue, dan parfumnya juga punya dia. lucu rasanya inget itu semua. anak kecil yang belum punya uang sendiri, berusaha dengan segala kreativitasnya untuk menghadiahkan kado buat nyokapnya. dan pas ngasih gue bilang, "selamat hari ibu ma, aku sayang mama". how sweet.

makin dewasa, malah makin terasa susah buat gue untuk bilang hal yang menyemenye ke nyokap.
lebih mudah mengaku sayang ke nyokap gue lewat twitter, daripada ngomong langsung. bukan, bukannya nyokap gue punya twitter terus gue mention. hanya bilang "aku sayang mama". tanpa mention ke siapa-siapa. bodoh sih, kalo gitu yang tau malah followers gue, bukan nyokap gue. pernah, entah gimana gue kangen banget sama nyokap. pengen ngobrol, pengen peluk pengen cium, tapi.......ada rasa malu yang menghalangi itu semua. padahal kalo dipikir, itu nyokap gue yang udah pernah ngeliat gue dalam keadaan apapun, kenapa harus malu. mungkin lebih tepatnya, gengsi. gengsi harus mengakui sayang dan kangen ke nyokap padahal sebelumnya gue marah sama dia. karena berbagai hal. bahkan ditanya-tanyain kebanyakan aja udah bikin gue marah sama nyokap gue. males rasanya jawab pertanyaan itu satu-satu. dan entah sejak kapan, gue mulai melupakan hari ibu.

beberapa hari yang lalu, nyokap gue nyamperin gue.
"udah lama deh ngga ngobrol-ngobrol sama kamu, sini peluk dulu"
dan entah kenapa, di pelukan nyokap gue cuma diem. menyadari bahwa gue sama nyokap sama-sama kangen, dan ternyata sama-sama gengsi. lucu. 2 orang yang tinggal serumah begitu lamanya bahkan masih malu satu sama lain.


kenapa tiba-tiba gue ngepost ini?
waktu lagi baca-baca, ada kata-kata yang menyentak gue. ini.

"sesungguhnya, perhatian orang tua kita adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima." -raditya dika.
ya, jangan sampe saat gue udah ngga bisa denger suara nyokap gue lagi, gue menyesali kemarahan gue sama kecerewetan dia.

memang bilang secara ngga langsung tanpa diketahui, itu lebih mudah.
"aku sayang banget sama mama. kangen banget dipeluk, dicium, ngobrol-ngobrol tentang semuanya. maaf, suka marah kalo dicerewetin dikit aja. maaf & makasih ma."




dearest the strongest woman in the world,
the angel without wings,
mama :)
happy mother's day♥
"hahaha tapi seru juga sih kayak tebak-tebakan gitu"

"buat lo sih seru, buat dia?"



seegois itu sampe ngga terpikir?

27.12.11

mungkin setiap tahun ingin punya kisahnya masing-masing. yang baru. yang unik. yang tak terlupakan. yang terus dikenang sampai tahun-tahun setelahnya.

yang berbeda.

dan perbedaan itu, memunculkan rasa kosong. ada yang hilang di tahun ini.

ya, tahun ini gue kehilangan seseorang buat diajak gereja bareng di malam Natal, yang setelahnya bakal merenungi semua kesalahan yang dibuat selama tahun itu sampai akhirnya minta maaf dengan caranya sendiri. yang selalu gue suka. gue kehilangan seseorang yang bangunin gue buat make a wish jam 12 malam di malam tahun baru. gue kehilangan momen-momen itu.
tapi bersamaan dengan kehilangan itu, gue jadi sadar kalo kehilangan itu ada biar bisa memuat sesuatu yang mau masuk.
dan sekarang, gue punya temen-temen yang luar biasa. yang baru gue sadari keberadaannya. yang baru gue tau betapa berharganya mereka.
sesuatu emang keliatan lebih, kalo lo lagi butuh.
dan sekarang gue merasakan gimana enaknya sendirian. main-main sampe malem tanpa harus ngecek hp nungguin tanggepan. menghabiskan waktu kemana aja tanpa takut dimarahin. ketawa-ketawa tanpa ngerasain gaenaknya dijutekin. rasanya sangat, nyaman.

mungkin, dengan begini, gue diajari gimana caranya menghargai diri gue sendiri, baru menghargai orang lain.

point of view.

hai. lama tak mengetik di sini. sudah mulai terlupakan rupanya.

kesibukan. kesibukan. dan kesibukan yang berjalan denganku selama setengah tahun terakhir ini. rok biru di lemariku, sudah berganti jadi rok abu-abu. sekolahku bergeser beberapa puluh meter. jadwal sehari-hariku berubah dengan drastis. yang tadinya pulang sekolah pukul 1 siang, makan siang dan sempat-sempatnya bermain, lalu pulang membawa kantuk yang dilanjutkan dengan tidur siang yang tenang, sekarang berubah 180 derajat. pulang sekolah pukul 4 sore, dilanjutkan dengan segala kegiatan dan les demi memperjuangkan nilai yang terseret-seret sejak di sekolah baru ini, sampai di rumah membawa capek yang luar biasa tapi tetap tak bisa duduk tenang karena selanjutnya bertumpuk tugas masih menunggu setia untuk dikerjakan, tanpa pengertian darinya untuk membiarkan aku beristirahat satu malam tanpa pikiran, dia hanya mau diselesaikan saat itu juga.
menjalani rutinitas yang seakan tanpa jeda seperti itu, mau tak mau jengah juga. malas rasanya. membuka mata di pagi hari tanpa keinginan yang berarti. hanya untuk mandi, memakai seragam, lalu berangkat ke sekolah dengan kantung mata menghitam dan kulit pucat seperti mayat. mayat yang harus hidup untuk menjalani rutinitasnya yang tak kunjung selesai. sampai di depan sekolah dan berjalan ke kelas seperti seonggok badan tak berjiwa. dengan lunglai dan tatapan kosong. lelah sekali rasanya.
tapi kemarin, lelah itu tiba-tiba hilang saat aku, melihat nilai-nilaiku sendiri di raport semester.
bukan, bukan nilai bagus dan memuaskan yang aku lihat sampai lelahku hilang.
tapi nilai yang hanya rata-rata. kecewa? sudah pasti.
tapi yang paling dominan adalah rasa sesal. sesal karena tak belajar dengan sungguh-sungguh dan menyangkal diri dengan alasan "capek". sesal karena bermain-main dengan alasan "capek". sesal karena tak berusaha menggali ilmu lebih dalam lagi karena alasan..... "capek".


tak mau lagi terulang. sepertinya aku harus belajar mematikan rasa untuk rasa capek.